Small Cap Stock Info (12 Agustus 2026): Katalis pertumbuhan BIRD
BIRD Rp1620 ( 0.61%) : Katalis pertumbuhan BIRD
BIRD Rp1620 ( 0.61%) : Katalis pertumbuhan BIRD
HRUM Rp830 ( 2.35%): Katalis positif HRUM
BEEF Rp414 ( 4.60%) : Alihkan fokus bisnis ke daging beku impor
TLKM memisahkan bisnis wholesale fiber ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia) melalui dua tahap. Fase 1, efektif Jan 26, mengalihkan aset IDR48,9tr dan liabilitas IDR13,3tr pada nilai appraisal IDR35,8tr. Fase 2, yang diagendakan pada EGMS 30 September, mengalihkan tambahan aset IDR29,2tr senilai IDR49,9tr, atau 33% dari ekuitas FY25, dengan penerbitan 498,6mn saham baru TIF. Secara gabungan, InfraNexia memegang aset IDR78,0tr yang menghasilkan pendapatan IDR24,8tr dan EBITDA IDR16,9tr, dinilai pada 5,9x EV/EBITDA. Laporan keuangan konsolidasi tidak berubah. Fase 1 membawa access fiber (490k km) dan backbone (80k km), sementara sisa aset subsea domestik (25k km) beralih pada Fase 2.
BIRD Rp1620 ( 0.61%) : Katalis pertumbuhan BIRD
HRUM Rp830 ( 2.35%): Katalis positif HRUM
BEEF Rp414 ( 4.60%) : Alihkan fokus bisnis ke daging beku impor
TLKM memisahkan bisnis wholesale fiber ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia) melalui dua tahap. Fase 1, efektif Jan 26, mengalihkan aset IDR48,9tr dan liabilitas IDR13,3tr pada nilai appraisal IDR35,8tr. Fase 2, yang diagendakan pada EGMS 30 September, mengalihkan tambahan aset IDR29,2tr senilai IDR49,9tr, atau 33% dari ekuitas FY25, dengan penerbitan 498,6mn saham baru TIF. Secara gabungan, InfraNexia memegang aset IDR78,0tr yang menghasilkan pendapatan IDR24,8tr dan EBITDA IDR16,9tr, dinilai pada 5,9x EV/EBITDA. Laporan keuangan konsolidasi tidak berubah. Fase 1 membawa access fiber (490k km) dan backbone (80k km), sementara sisa aset subsea domestik (25k km) beralih pada Fase 2.
AMRT mencatat kinerja 2Q26 yang in line, dengan PATMI 1H26 mencapai IDR2,0tr (+7,5% YoY), atau 52% dari konsensus FY26. Pertumbuhan revenue melambat menjadi 5,4% YoY di 2Q26, dengan SSSG turun menjadi 2,7% dari 6,2% di 1Q26, terutama akibat pergeseran timing Ramadan. Namun, demand tetap resilient meski terdapat kenaikan harga c.4–5%, sementara sales terus bergeser ke kategori dengan margin lebih tinggi. Tren penjualan yang membaik pada awal Jul’26 mendukung guidance FY26.
Penjualan ritel diperkirakan tumbuh 0,9% YoY pada Jul 26, dengan Indeks Penjualan Riil (IPR) mencapai 224,4, ditopang oleh suku cadang dan aksesori (+10,8% YoY) serta perlengkapan rumah tangga (+2,5% YoY). Namun, secara bulanan penjualan diperkirakan turun 0,3% MoM, mengindikasikan pemulihan konsumsi rumah tangga masih berlangsung secara gradual dan belum mencerminkan pemulihan daya beli yang menyeluruh.