Flash Focus: Bank Negara Indonesia (BBNI IJ/Not rated) - Loans Racing Ahead, but Margin and Asset Quality Cap Earnings
BBNI membukukan laba bersih 3Q26 sebesar IDR5,4tr (+5,2% QoQ, +6,8% YoY), sehingga laba 9M26 mencapai IDR16,1tr (+6,6% YoY). Pertumbuhan QoQ ditopang oleh provisi yang turun 36,8% QoQ menjadi IDR1,9tr (CoC 3Q26: 0,7% vs. 1,2% pada 2Q26). Namun, kinerja inti melemah. NII turun 2,7% QoQ menjadi IDR11,0tr, karena beban bunga melonjak 24,5% QoQ sementara pendapatan bunga hanya naik 8,9% QoQ, sedangkan opex naik 7,4% QoQ, sehingga PPOP turun 1,5% QoQ menjadi IDR9,0tr. Kredit tumbuh 22,2% YoY (+2,5% QoQ; +10,3% YTD) menjadi IDR992,5tr, didanai pertumbuhan DPK sebesar 20,4% YoY (rasio CASA 65,2%).
BBNI membukukan laba bersih 3Q26 sebesar IDR5,4tr (+5,2% QoQ, +6,8% YoY), sehingga laba 9M26 mencapai IDR16,1tr (+6,6% YoY). Pertumbuhan QoQ ditopang oleh provisi yang turun 36,8% QoQ menjadi IDR1,9tr (CoC 3Q26: 0,7% vs. 1,2% pada 2Q26). Namun, kinerja inti melemah. NII turun 2,7% QoQ menjadi IDR11,0tr, karena beban bunga melonjak 24,5% QoQ sementara pendapatan bunga hanya naik 8,9% QoQ, sedangkan opex naik 7,4% QoQ, sehingga PPOP turun 1,5% QoQ menjadi IDR9,0tr. Kredit tumbuh 22,2% YoY (+2,5% QoQ; +10,3% YTD) menjadi IDR992,5tr, didanai pertumbuhan DPK sebesar 20,4% YoY (rasio CASA 65,2%).
NIM 3Q26 turun menjadi 3,3% dari 3,6% pada 2Q26 (9M26: 3,5% vs. 3,8% pada 9M25), karena CoF melonjak 53bps QoQ menjadi 3,16%, dengan biaya deposito berjangka mencapai 5,39% di tengah likuiditas yang ketat. Manajemen menyebut tekanan NIM BBNI juga berasal dari sisi yield (loan yield 9M26: 6,9% vs. 7,3%), seiring pergeseran mix ke kredit wholesale dengan yield yang lebih rendah. Repricing (79bps, di atas target) mendorong loan yield kuartalan naik menjadi 7,1% dari 6,9%, namun belum cukup mengimbangi lonjakan biaya dana. Secara headline, kualitas aset membaik, dengan LaR turun menjadi 7,8% dari 10,4% setahun sebelumnya dan NPL stabil di 1,9%. Namun, NPL konsumer naik menjadi 3,2% dari 2,6% akibat melemahnya daya beli, sementara NPL komersial naik menjadi 5,9% dari 4,9%.
Manajemen menaikkan guidance pertumbuhan kredit FY26F menjadi 10–13% dari 8–10%, dengan mempertimbangkan kemampuan bank menjaga pendanaan, coverage, dan permodalan, serta memperkirakan pertumbuhan kredit low-to-mid teens pada FY27F. Dengan kredit yang sudah tumbuh 10,3% YTD, batas atas guidance menyiratkan pertumbuhan sekitar 2,4% QoQ pada 4Q26F. Guidance NIM dipertahankan di 3,3–3,5% dan CoC di 1,0–1,2%, yang menyiratkan kenaikan credit cost dari 0,7% pada 3Q26. Manajemen memperkirakan NIM 4Q26F membaik dari 3Q26, meskipun ruang repricing lanjutan terbatas, dengan 20% kredit berbunga tetap dan 50% managed rate. CET1 berada di 16,5% vs. batas minimum internal 14,5%, dan dividen diperkirakan kembali normal. CIR jangka menengah ditargetkan sekitar 40% (9M26: 45,8%).
Kami netral terhadap BBNI. Pertumbuhan kredit kuat dan diperkirakan tetap solid, ditopang permintaan wholesale, franchise CASA yang solid, serta provisi yang memadai di tengah NPL formation yang lebih rendah (9M26: 1,3%). Namun, pertumbuhan kredit 22% hanya menghasilkan pertumbuhan laba 6,6% pada 9M26. Kami melihat risiko kompresi NIM lanjutan mengingat ruang repricing yang terbatas, biaya dana yang tinggi, serta porsi kredit wholesale dengan yield rendah yang terus meningkat. Melemahnya kualitas aset segmen konsumer dan komersial mengindikasikan credit cost akan ternormalisasi dari 0,7% pada 3Q26, sementara CET1 sebesar 16,5% hanya menyisakan ruang sekitar 200bps di atas batas 14,5% untuk mendanai pertumbuhan sekaligus dividen. Secara keseluruhan, potensi kompresi NIM dan kualitas aset yang melemah dapat membatasi pertumbuhan laba BBNI.
