Kalbe Farma (KLBF IJ/Maintain) - Volume Carries Growth, Margins Still Compressing
KLBF membukukan pendapatan 2Q26 Rp9,80tr (+19,0% YoY, +1,3% QoQ), PATMI Rp891bn ( 0,8% YoY, 13,5% QoQ), dan EBITDA Rp1,36tr (+8,8% YoY, 9,5% QoQ). Pendapatan, PATMI, dan EBITDA 1H26 setara 50%/51%, 49%/53%, dan 50%/54% FY26F kami dan konsensus, dalam rentang 1H lima tahun, yang kami nilai in line. Volume menopang hampir seluruh pertumbuhan, kontribusi harga di bawah 1%, sementara margin kotor turun ke 36,8% ( 3,8ppt YoY, 4,2ppt QoQ) akibat bauran, biaya bahan baku, dan pelemahan IDR.
KLBF membukukan pendapatan 2Q26 Rp9,80tr (+19,0% YoY, +1,3% QoQ), PATMI Rp891bn (-0,8% YoY, -13,5% QoQ), dan EBITDA Rp1,36tr (+8,8% YoY, -9,5% QoQ). Pendapatan, PATMI, dan EBITDA 1H26 setara 50%/51%, 49%/53%, dan 50%/54% FY26F kami dan konsensus, dalam rentang 1H lima tahun, yang kami nilai in line. Volume menopang hampir seluruh pertumbuhan, kontribusi harga di bawah 1%, sementara margin kotor turun ke 36,8% (-3,8ppt YoY, -4,2ppt QoQ) akibat bauran, biaya bahan baku, dan pelemahan IDR.
Consumer Health naik ke Rp1,31tr (+20,5% YoY), segmen manufaktur tercepat dan satu-satunya yang margin kotornya melebar, ke 64,0%. Pharmaceutical mencapai Rp2,67tr (+8,6% YoY) ditopang generik bermerek lewat B2C di GPM 46,6% (-4,6ppt YoY), dan Nutritionals Rp2,10tr (+12,1% YoY) di 52,8% (-3,8ppt YoY). Distribution tumbuh tercepat ke Rp3,72tr (+32,2% YoY) berkat principal baru, menaikkan porsi pendapatan ke 38% dari 34%, pergeseran bauran yang hanya menjelaskan 0,9ppt dari kontraksi margin grup 3,8ppt YoY, dengan GPM manufaktur turun ke 52,5% dari 55,4%.
Manajemen memandu koreksi margin lebih lanjut karena 1H26 masih terbantu persediaan berbiaya rendah, dengan tekanan dari daya beli lemah, nilai tukar, dan harga minyak. Untuk memitigasi hal ini, manajemen membangun persediaan bahan baku, diversifikasi pengadaan, dan memperketat kendali SGA, dengan prioritas arus kas operasi sementara akuisisi dikaji. Kami mempertahankan proyeksi seiring hasil in line dan Buy dengan TP Rp1.030. Risiko utama: pelemahan IDR berkepanjangan, harga minyak tinggi, dan biaya input lebih tinggi.
