Indocement Tunggal Prakarsa (INTP IJ/Maintain) - In-line Results, Cost Efficiency Intact

INTP membukukan pendapatan 2Q26 Rp4,6tr (+13,6% YoY, +19,8% QoQ), PATMI Rp374bn (+31,8% YoY, +74,0% QoQ), dan EBITDA Rp815bn (+13,9% YoY, +24,6% QoQ). Pendapatan, PATMI, dan EBITDA 1H26 tumbuh 5,2%, 19,2%, dan 8,8% YoY, setara 47%/33%/39% estimasi 2026F kami dan 46%/33%/41% konsensus, yang kami nilai in line. GPM 2Q26 melebar ke 30,6% (+0,4ppt YoY, +1,9ppt QoQ), NPM ke 8,1% (+1,1ppt YoY, +2,5ppt QoQ), dan margin EBITDA ke 17,7% (+0,1ppt YoY, +0,7ppt QoQ).

SahamAndreas Saragih06 Agu 2026

INTP membukukan pendapatan 2Q26 Rp4,6tr (+13,6% YoY, +19,8% QoQ), PATMI Rp374bn (+31,8% YoY, +74,0% QoQ), dan EBITDA Rp815bn (+13,9% YoY, +24,6% QoQ). Pendapatan, PATMI, dan EBITDA 1H26 tumbuh 5,2%, 19,2%, dan 8,8% YoY, setara 47%/33%/39% estimasi 2026F kami dan 46%/33%/41% konsensus, yang kami nilai in line. GPM 2Q26 melebar ke 30,6% (+0,4ppt YoY, +1,9ppt QoQ), NPM ke 8,1% (+1,1ppt YoY, +2,5ppt QoQ), dan margin EBITDA ke 17,7% (+0,1ppt YoY, +0,7ppt QoQ).

Volume penjualan mencapai 5,12mn ton (+13,1% YoY, +32,6% QoQ) dan 9,56mn ton di 1H26 (+7,6% YoY), ditopang program pemerintah (Sekolah Rakyat, koperasi desa, dapur SPPG, rekonstruksi Sumatra) untuk bulk serta musim panen dan harga CPO dan batu bara yang lebih tinggi untuk bag. COGS/ton turun ke Rp583.899 (-1,6% YoY, -17,8% QoQ), dipimpin biaya energi/ton Rp243.575 (-5,8% YoY, -11,3% QoQ) berkat bahan bakar alternatif 33,1% (+5,4ppt YoY), solar panel lebih luas, dan operating leverage, sementara biaya distribusi/ton naik ke Rp123.188 (+11,3% YoY, +8,5% QoQ).

Manajemen menaikkan panduan pertumbuhan konsumsi semen 2026 ke 4-5% dari 1-2% dan berencana menyesuaikan harga di 3Q untuk meneruskan kenaikan biaya batu bara, bahan bakar, kertas kraft, serta pelemahan IDR. Kami mempertahankan proyeksi karena 1H26 yang in line berpotensi diimbangi perlambatan konsumsi dan tekanan margin di 2H26. Kami mempertahankan rekomendasi Buy dengan TP tidak berubah di Rp6.500, berbasis EV/EBITDA 1,25 S.D. di bawah rata-rata lima tahun. Risiko utama: konsumsi semen lebih rendah dari perkiraan, persaingan ketat yang membatasi ruang penyesuaian harga, dan biaya input lebih tinggi.