HomeRisetFixed Income Daily Update

Fixed Income Daily Update - August 12, 2026

Penjualan ritel diperkirakan tumbuh 0,9% YoY pada Jul 26, dengan Indeks Penjualan Riil (IPR) mencapai 224,4, ditopang oleh suku cadang dan aksesori (+10,8% YoY) serta perlengkapan rumah tangga (+2,5% YoY). Namun, secara bulanan penjualan diperkirakan turun 0,3% MoM, mengindikasikan pemulihan konsumsi rumah tangga masih berlangsung secara gradual dan belum mencerminkan pemulihan daya beli yang menyeluruh.

Fixed Income Daily UpdateJessica Tasijawa11 Agu 2026

Penjualan ritel diperkirakan tumbuh 0,9% YoY pada Jul-26, dengan Indeks Penjualan Riil (IPR) mencapai 224,4, ditopang oleh suku cadang dan aksesori (+10,8% YoY) serta perlengkapan rumah tangga (+2,5% YoY). Namun, secara bulanan penjualan diperkirakan turun 0,3% MoM, mengindikasikan pemulihan konsumsi rumah tangga masih berlangsung secara gradual dan belum mencerminkan pemulihan daya beli yang menyeluruh.

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun menjadi 116,8 pada Jul-26 dari 117,8, terendah sejak Apr-25, seiring melemahnya persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja dan pembelian barang tahan lama. Meski masih berada di atas 100, pelemahan keyakinan konsumen meningkatkan downside risk terhadap konsumsi rumah tangga pada 2H26 setelah tumbuh 5,06% YoY pada 2Q26, sementara ruang pelonggaran BI masih dibatasi oleh stabilitas Rupiah dan risiko eksternal.

**Kepemilikan asing di SBN mencatat net inflow IDR11 triliun YTD, terkonsentrasi pada tenor 2–5Y (IDR79 triliun) dan <1Y (IDR21 triliun), mencerminkan preferensi yang masih kuat terhadap tenor pendek.** Namun, permintaan mulai bergeser ke tenor lebih panjang, dengan tenor 5–10Y dan >10Y masing-masing mencatat inflow IDR9 triliun dan IDR7 triliun dalam sebulan terakhir, mengindikasikan investor mulai menambah durasi seiring membaiknya persepsi risiko domestik.

Rupiah melemah tipis ke IDR17.840/USD, namun SBN tetap outperform terhadap UST, dengan yield INDOGB 10Y turun ke 7,23% meskipun UST 10Y naik ke 4,73%, sementara yield INDOGB 2Y bertahan di bawah 7% pada 6,98% saat UST 2Y naik ke 4,26%. Akibatnya, spread INDOGB–UST menyempit menjadi 250,0bps (10Y) dan 272,7bps (2Y), sementara CDS 5Y Indonesia turun ke sekitar 88bps, menunjukkan meredanya premi risiko domestik meskipun yield UST meningkat, meski ruang penguatan SBN selanjutnya akan semakin bergantung pada keberlanjutan inflow asing.