Cement (Neutral/Maintain) - Raising FY26F on a Strong 9M26
Konsumsi semen domestik pada September 2026 mencapai 6,0 juta ton (+0,1% MoM, +3,0% YoY), dipimpin semen curah 1,9 juta ton (+3,9% MoM, +8,2% YoY) yang tumbuh di Jawa dan luar Jawa berkat cuaca kering, kejar tenggat proyek, dan percepatan realisasi anggaran akhir tahun. Semen kantong turun ke 4,2 juta ton ( 1,5% MoM, +0,8% YoY). Konsumsi 9M26 naik 7,9% YoY menjadi 48,1 juta ton, atau 75,6% dari FY26F kami sebelumnya, di atas run rate lima tahun 71 74%. Karena volume produsen lapis kedua melampaui proyeksi, kami menaikkan FY26F menjadi 66,9 juta ton dari 63,7 juta ton dan mempertahankan pertumbuhan FY27F 2,0%.
Konsumsi semen domestik pada September 2026 mencapai 6,0 juta ton (+0,1% MoM, +3,0% YoY), dipimpin semen curah 1,9 juta ton (+3,9% MoM, +8,2% YoY) yang tumbuh di Jawa dan luar Jawa berkat cuaca kering, kejar tenggat proyek, dan percepatan realisasi anggaran akhir tahun. Semen kantong turun ke 4,2 juta ton (-1,5% MoM, +0,8% YoY). Konsumsi 9M26 naik 7,9% YoY menjadi 48,1 juta ton, atau 75,6% dari FY26F kami sebelumnya, di atas run rate lima tahun 71-74%. Karena volume produsen lapis kedua melampaui proyeksi, kami menaikkan FY26F menjadi 66,9 juta ton dari 63,7 juta ton dan mempertahankan pertumbuhan FY27F 2,0%.
Volume grup SMGR turun ke 3,0 juta ton pada September (-7,7% MoM, -12,3% YoY) karena volume regional anjlok 39,3% YoY, dan pangsa pasar domestiknya turun ke 44,0% (-4,3ppt YoY), terendah setidaknya sejak 2021. Volume INTP naik ke 1,9 juta ton (+1,9% MoM, +12,1% YoY), mengangkat pangsa pasarnya ke 31,6% (+2,6ppt YoY), tertinggi setidaknya sejak 2021. Pada 9M26, volume SMGR tumbuh 1,5% YoY ke 27,9 juta ton (71,4% dari FY26F vs. historis 72-75%), sementara INTP naik 7,8% YoY ke 14,1 juta ton (72,9% vs. 72-73%).
Kami mempertahankan peringkat Netral untuk sektor, Buy untuk SMGR (TP Rp2.460), dan Trading Buy untuk INTP (TP Rp6.500). Koreksi tajam INTP setelah konsultasi MSCI terkait reklasifikasi Indonesia menjadi Standalone Market menyisakan upside 19,3% terhadap TP kami, sedikit di bawah ambang Buy. Risiko penurunan meliputi kenaikan BI Rate, perlambatan belanja pemerintah, pelemahan rupiah, dan aksi jual asing lanjutan, sedangkan risiko kenaikan meliputi permintaan yang lebih kuat, naiknya pangsa pasar lapis pertama, dan harga jual yang lebih baik.
