Hadapi Votalitas Pasar, Mirae Asset Sekuritas Soroti Fundamental dan Reformasi Pasar Modal
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menekankan pentingnya strategi investasi yang selektif di tengah volatilitas pasar global dan ketidakpastian terkait usulan MSCI. Pesan ini menjadi sorotan dalam Media Day Oktober 2026: “Navigating Uncertainty: A New Perspective on Indonesia’s Market”, yang mengulas dinamika pasar dan peluang investasi di tengah ketidakpastian.
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menekankan pentingnya strategi investasi yang selektif di tengah volatilitas pasar global dan ketidakpastian terkait usulan MSCI. Pesan ini menjadi sorotan dalam Media Day Oktober 2026: “Navigating Uncertainty: A New Perspective on Indonesia’s Market”, yang mengulas dinamika pasar dan peluang investasi di tengah ketidakpastian.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai pasar keuangan Indonesia masih menghadapi tekanan dari kombinasi ketidakpastian global dan tantangan domestik. Di pasar global, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, ekspektasi suku bunga yang bertahan tinggi, serta kenaikan harga energi berpotensi memperkuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang dan meningkatkan volatilitas arus modal.
Tekanan tersebut turut tercermin pada nilai tukar rupiah yang berada di sekitar Rp18.000 per dolar AS pada pertengahan Oktober 2026. Di sisi domestik, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga kebijakan sebesar 100 basis poin sejak Mei 2026 menjadi 5,75% untuk menjaga stabilitas rupiah. Sementara itu, inflasi September 2026 tercatat sebesar 3,28%, tetapi Mirae Asset memperkirakan inflasi dapat mencapai 4,0% pada akhir tahun, terutama dipengaruhi pelemahan rupiah dan kenaikan harga pangan.
“Investor perlu melihat kondisi pasar secara menyeluruh, karena tekanan global tidak hanya berdampak pada pergerakan saham, tetapi juga nilai tukar, imbal hasil obligasi, dan arus modal. Di tengah kondisi ini, fundamental ekonomi Indonesia masih relatif resilien, tetapi tekanan terhadap daya beli dan risiko inflasi tetap perlu dicermati,” ujar Rully.
Selain faktor makroekonomi, perhatian pasar juga tertuju pada usulan MSCI terkait kemungkinan perubahan klasifikasi Indonesia menjadi Standalone Market. Rully menegaskan bahwa usulan tersebut belum menjadi keputusan final. Proses konsultasi masih berlangsung, sementara otoritas pasar modal tengah menjalankan sejumlah langkah pembenahan untuk meningkatkan transparansi kepemilikan saham, memperkuat keterbukaan informasi, dan memperbaiki kualitas pasar.
Menurut Rully, arah reformasi tersebut menjadi faktor penting dalam menentukan kepercayaan investor ke depan. Konsistensi pelaksanaan dan hasil yang dapat diverifikasi akan menjadi perhatian utama pasar, terutama di tengah kekhawatiran mengenai potensi perubahan aliran dana asing apabila kebijakan MSCI berubah.
Tekanan tersebut telah menambah volatilitas pasar saham. Pada 16 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 11,6% dalam satu hari setelah pengumuman terkait MSCI. Di saat yang sama, investor asing masih mencatatkan tekanan jual bersih yang signifikan sepanjang tahun berjalan. Kondisi ini menunjukkan bahwa pergerakan pasar tidak hanya dipengaruhi oleh valuasi dan kinerja emiten, tetapi juga sentimen investor serta perkembangan reformasi pasar modal.
“Valuasi saham yang sudah terkoreksi memang dapat membuka peluang, tetapi harga yang lebih murah tidak otomatis berarti pasar akan segera pulih. Investor tetap perlu memperhatikan perkembangan arus dana asing, kemajuan reformasi pasar, dan kemampuan perusahaan mempertahankan kinerja fundamentalnya,” tambah Rully.
Tekanan pasar yang dipicu ketidakpastian MSCI juga berdampak pada saham-saham sektor consumer. Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Putu Chantika Putri Dhammayanti, menilai investor perlu melihat sektor ini secara lebih selektif karena tekanan pasar tidak berdampak sama pada setiap emiten. Selain kondisi daya beli dan biaya operasional, kepemilikan asing serta ketahanan kinerja masing-masing perusahaan turut memengaruhi pergerakan saham.
Pada 16 Oktober 2026, ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 11,6%, sektor consumer non-cyclicals turun 10,1%. Sejumlah saham consumer turut mengalami tekanan signifikan, termasuk MIDI yang turun 12,4% dan AMRT yang terkoreksi 14,9% pada hari tersebut. Menurut Chantika, tekanan ini perlu dilihat dalam konteks ketidakpastian terkait usulan MSCI dan potensi perubahan arus dana asing, bukan semata-mata sebagai cerminan perubahan fundamental bisnis perusahaan.
“Dalam kondisi pasar seperti sekarang, investor perlu membedakan tekanan yang berasal dari sentimen dan arus dana dengan perubahan fundamental perusahaan. Tekanan pasar dapat menciptakan peluang, tetapi tidak semua saham akan pulih dengan kecepatan yang sama. Karena itu, pemilihan saham perlu didasarkan pada ketahanan bisnis dan prospek kinerja masing-masing emiten,” jelas Chantika.
Perbedaan kinerja saham sepanjang tahun berjalan juga menunjukkan pentingnya pendekatan tersebut. Hingga 16 Oktober 2026, MAPI masih mencatatkan kenaikan harga saham sebesar 13,3% secara year-to-date, sedangkan AMRT dan UNVR masing-masing terkoreksi sekitar 46,6% dan 46,5%. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa saham-saham consumer memiliki karakteristik dan daya tahan yang berbeda dalam menghadapi tekanan pasar.
Chantika juga mengingatkan bahwa valuasi yang berada di bawah rata-rata historis tidak otomatis menjadi jaminan pemulihan harga saham. Perubahan pola konsumsi, tekanan biaya, kemampuan perusahaan mempertahankan margin, dan prospek pertumbuhan laba perlu menjadi pertimbangan utama. Dalam situasi ini, ketahanan volume penjualan menjadi salah satu indikator penting untuk menilai kemampuan perusahaan mempertahankan kinerja di tengah pemulihan konsumsi yang belum merata.
“Valuasi yang murah saja tidak cukup untuk menjadi dasar keputusan investasi. Investor perlu melihat apakah perusahaan masih mampu menjaga volume penjualan, mempertahankan profitabilitas, dan memiliki katalis pertumbuhan yang jelas. Kami melihat peluang tetap ada pada emiten dengan ketahanan volume yang baik, tetapi pendekatannya perlu lebih selektif dan tidak bisa lagi hanya mengandalkan asumsi bahwa valuasi akan kembali ke rata-rata historis,” tambah Chantika.
Dalam risetnya, Mirae Asset tetap mencermati MIDI, MAPI, dan CMRY dengan mempertimbangkan ketahanan volume dan prospek kinerja masing-masing perusahaan. Pendekatan ini menekankan pentingnya seleksi berbasis fundamental di tengah tekanan arus dana asing dan perubahan sentimen pasar, alih-alih mengasumsikan seluruh saham consumer akan mengalami pemulihan yang sama.
Selain membahas kondisi pasar dan peluang investasi, Media Day kali ini turut memperkenalkan layanan referral Gadai Efek melalui kerja sama Mirae Asset Sekuritas Indonesia dengan PT Pegadaian sebagai alternatif akses likuiditas berbasis portofolio investasi.
Head of Business Development PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Simon Gunawan Sinaga, menjelaskan bahwa fasilitas ini memungkinkan nasabah mengajukan pinjaman dengan menjaminkan efek yang memenuhi kriteria, seperti saham tertentu atau obligasi pemerintah, tanpa harus langsung menjual aset investasinya.
“Melalui layanan referral Gadai Efek, kami mendukung akses nasabah terhadap solusi likuiditas dengan tetap mengedepankan edukasi risiko dan kejelasan peran masing-masing pihak,” ujar Simon.
Dalam skema ini, Mirae Asset berperan sebagai mitra referral yang membantu pemeriksaan awal dokumen dan ketersediaan efek. Sementara itu, proses verifikasi, penilaian agunan, serta keputusan pemberian pinjaman sepenuhnya menjadi kewenangan Pegadaian.
Efek yang dijaminkan tetap tercatat atas nama nasabah, tetapi diblokir selama menjadi agunan. Nasabah juga perlu memahami risiko penurunan nilai efek yang dapat memicu kewajiban penambahan agunan atau pelunasan sebagian, serta kemungkinan penjualan agunan apabila kewajiban tidak dipenuhi.
Melalui Media Day ini, Mirae Asset menegaskan pentingnya pengambilan keputusan investasi yang selektif dan terukur, dengan mempertimbangkan dinamika pasar, fundamental investasi, serta risiko yang menyertainya, termasuk dalam memanfaatkan alternatif solusi likuiditas berbasis portofolio.
